Pembelajaran Konvensional
1. Pengertian pembelajaran konvensional
Menurut Sudaryo (1990) bahwa secara tradisional (konvensional) mengajar diartikan sebagai upaya penyampaian atau penanaman pengetahuan pada anak. Dalam pengertian ini nak dipandang sebagai obyek yang sifatnya pasif, pengajaran berpusat pada guru (teacher oriented) dan guru memegang peranan utama dalam pembelajaran. Dalam pengajaran ini guru mengkomunikasikan pengetahuannya kepada siswa dengan teknik ceramah.
Menurut St. Vembriarto (1990) pengajaran tradisional adalah pengajaran yang diberikan pada siswa secara bersama-sama. Sedang menurut Ruseffendi pengajaran tradisional adalah pengajaran yang pada umumnya biasa kita lakukan sehari-hari. (Nining, 2004)
2. Metode Ceramah
Ceramah didefinisikan sebagai usaha guru menyampaikan materi pelajaran melalui kegiatan berbicara, kadang-kadang diselingi menggunakan papan tulis dan kapur. Sementara para siswa mendengarkan dengan tertib dan mencatat. (Sudaryo, 1990)
a. Kelebihan Metode Ceramah
1) Murah biayanya karena media yang digunakan hanya suara guru
2) Mudah mengulangnya kembali kalau diperlukan, sebab guru sudah menguasai apa yang telah diceramahkan.
3) Dengan penguasaan materi yang baik dan persiapan guru yang cermat bahan dapat disampaikan dengan cara yang sangat menarik, lebih mudah diterima dan diingat oleh siswa.
4) Memberi peluang kepada siswa untuk melatih pendengaran.
5) Siswa dilatih untuk menyimpulkan pembicaraan yang panjang menjadi inti.
b. Kekurangan metode ceramah
1) Tidak semua siswa memiliki daya tangkap yang baik, sehingga akan menimbulkan verbalisme
2) Agak sulit bagi siswa mencerna atau menganalisis materi yang diceramahkan bersama-sama dengan kegiatan mendengarkan penjelasan atau ceramah guru.
3) Tidak memberikan kesempatan siswa untuk apa yang disebut “belajar dengan berbuat”.
4) Tidak semua guru pandai melaksanakan ceramah sehingga tujuan pelajaran tidak dapat tercapai.
5) Menimbulkan rasa bosan sehingga materi sulit diterima.
6) Menjadikan siswa malas membaca isi buku, mereka mengandalkan suara guru saja. (Nining, 2004).
1. Pengertian pembelajaran konvensional
Menurut Sudaryo (1990) bahwa secara tradisional (konvensional) mengajar diartikan sebagai upaya penyampaian atau penanaman pengetahuan pada anak. Dalam pengertian ini nak dipandang sebagai obyek yang sifatnya pasif, pengajaran berpusat pada guru (teacher oriented) dan guru memegang peranan utama dalam pembelajaran. Dalam pengajaran ini guru mengkomunikasikan pengetahuannya kepada siswa dengan teknik ceramah.
Menurut St. Vembriarto (1990) pengajaran tradisional adalah pengajaran yang diberikan pada siswa secara bersama-sama. Sedang menurut Ruseffendi pengajaran tradisional adalah pengajaran yang pada umumnya biasa kita lakukan sehari-hari. (Nining, 2004)
2. Metode Ceramah
Ceramah didefinisikan sebagai usaha guru menyampaikan materi pelajaran melalui kegiatan berbicara, kadang-kadang diselingi menggunakan papan tulis dan kapur. Sementara para siswa mendengarkan dengan tertib dan mencatat. (Sudaryo, 1990)
a. Kelebihan Metode Ceramah
1) Murah biayanya karena media yang digunakan hanya suara guru
2) Mudah mengulangnya kembali kalau diperlukan, sebab guru sudah menguasai apa yang telah diceramahkan.
3) Dengan penguasaan materi yang baik dan persiapan guru yang cermat bahan dapat disampaikan dengan cara yang sangat menarik, lebih mudah diterima dan diingat oleh siswa.
4) Memberi peluang kepada siswa untuk melatih pendengaran.
5) Siswa dilatih untuk menyimpulkan pembicaraan yang panjang menjadi inti.
b. Kekurangan metode ceramah
1) Tidak semua siswa memiliki daya tangkap yang baik, sehingga akan menimbulkan verbalisme
2) Agak sulit bagi siswa mencerna atau menganalisis materi yang diceramahkan bersama-sama dengan kegiatan mendengarkan penjelasan atau ceramah guru.
3) Tidak memberikan kesempatan siswa untuk apa yang disebut “belajar dengan berbuat”.
4) Tidak semua guru pandai melaksanakan ceramah sehingga tujuan pelajaran tidak dapat tercapai.
5) Menimbulkan rasa bosan sehingga materi sulit diterima.
6) Menjadikan siswa malas membaca isi buku, mereka mengandalkan suara guru saja. (Nining, 2004).

0 komentar:
Posting Komentar